Jalan Yang Tak Berujung
Aku...
Berlari tanpa henti, mengikuti sebuah jalan yang panjang. Jalanan yang bahkan diriku sendiri tidak tahu kemana arah kaki ini akan membawaku pergi . Berlari tanpa tahu apa yang akan aku temui didepan sana, dan apa yang harus aku lakukan jika ada sebuah bahaya yang siap menantiku seorang diri.
Berlari diantara kabut hitam pekat, setelah hadirnya hujan badai yang mengerikan malam itu. Jalan yang begitu menyeramkan, bahkan tidak ada satu orang pun yang ingin melewati jalanan ini. Jalanan yang begitu gelap, sepi dan dipenuhi oleh kerikil yang dengan senang hati melukai kaki setiap kali melangkah dan pohon - pohon besar yang siapapun yang melihatnya akan merasa takut. Dalam benak ini, hanya mengharapkan sebuah harapan, akan adanya sinar cahaya yang akan menjadi arah untuk keluar dari perjalanan ini, atau bahkan sebuah jalan keluar yang telah lama di nantikan.
Tertatih, hingga rasanya ingin sekali berhenti untuk berlari. Egoku ini selalu saja membisikan sesuatu yang selalu ingin aku lakukan.
"Berhenti saja, menyerahlah" Kalimat itu selalu saja terdengar begitu keras dan nyaring.
"Berlari seperti ini, dijalanan yang begitu gelap tanpa ada cahaya yang menyinari tidak ada gunanya!! Bahkan bintang pun enggan menyinari perjalananmu. Kau sendirian berlari dan kehilangan arah bagai layangan putus begitu lamanya, tidakkah kau merasa kasihan pada dirimu sendiri? Tidakkah kau merasa lelah? Apa yang kau harapkan tidak akan menjadi kenyataan, semua yang kau lakukan dan kau perjuangkan selama ini adalah sia - sia"
Godaan untuk menghentikan kakiku untuk berlari semakin kuat, terkadang kaki ini menghentikan lariku. Tidak benar - benar berhenti, tapi melangkah pelan menyusuri jalanan.
"Berhentilah!!!"
"Sudahi semuanya"
"Kau lelahkan?"
"Kau berjuang sendirian, tanpa ada yang menemanimu!!!"
"Bagus, berhentilah kau berlari, dan hentikanlah langkah kakimu sekarang!!!"
Kata - kata itu semakin terdengar sangat jelas ditelingaku saat kaki ini hanya melangkah perlahan. Benar semuanya terlihat sia - sia saat aku berlari tanpa arah. Hanya menyusuri jalanan tanpa jelas arahnya, memang melelahkan. Tapi bagaimana dengan perjuanganku selama ini?
Sudah berapa banyak waktu yang sudah aku lewati untuk berjuang sampai sejauh ini? Bukan satu atau dua bulan saja aku melakukan perjalanan ini, atau bahkan hanya satu atau dua hari saja. Sudah bertahun - tahun lamanya aku melakukan perjalanan ini.
Memang aku sadar, sampai saat ini pun, aku belum menemukan satu cahaya pun didalam perjalanan ini. Yang aku temui hanya sebuah krikil - krikil tajam, hewan - hewan buas dan jalanan yang licin, yang sering sekali membuatku terjatuh dan menangis.
Tujuan perjalanan panjangku adalah mengambil sebuah obat untuk luka yang abadi, obat yang aku harapkan dapat menyembuhkan luka abadi dari hati seorang wanita yang sudah hancur lebur. Luka yang aku terima dalam perjalanan waktu ini tidaklah sebanding dengan apa yang telah ia rasakan. Walaupun, jika dilihat dengan sesama kami sama - sama terluka parah dan membutuhkan obat itu.
Berhenti, sama saja aku mengakhiri segalanya, mengakhiri perjalananku, mengakhiri perjuangan panjang yang melelahkan.
Untuk apa aku merasakan perihnya luka dari perjalanan ini? Untuk apa aku menahan sakit yang aku rasakan di setiap jengkal tubuhku, perihnya hatiku, dan berjuang melawan ke egoisanku sendiri, jika semua itu adalah usaha yang sia- sia. Usaha yang aku tahu, tidak semua orang dapat melewatinya dengan mudah, bahkan jika ada yang melewati perjalanan seperti diriku ini, beberapa ada yang menyerah dan memutuskan untuk berhenti melangkah atau tersesat dijalanan gelap lainnya. Mengikuti suara ego mereka yang terdengar jelas dan sangat menjanjikan. Seperti suara Egoku yang selalu menjadi bayangan hitam dalam perjalanan ini.
Kalau akan seperti mereka pada akhirnya, untuk apa semua yang aku lakukan saat ini?
Berusaha bangkit dan melangkahkan kakiku untuk berlari lagi saat aku terjatuh dari jalan yang licin dan terjal. Jika semua yang aku lakukan pada akhirnya sia - sia saja. Karena jika aku menghentikan langkah kakiku, artinya menghentikan perjalanan waktuku sendiri. Memutuskan untuk membiarkan seseorang terluka kembali karena kehilangan diriku. Kehilangan diriku selamanya yang tenggelam di dalam kabut hitam yang tidak terlihat.
Dan kekuatan ku satu - satunya dalam perjalanan ini adalah membayangkan wanita itu tersenyum kembali, memberikan senyuman kebahagian, senyuman yang sama seperti pertama kali aku membuka mataku untuk melihat dunia ini. Kekuatan ku untuk bisa berlari mencari obat itu adalah dirinya.
Pelukkan hangat, dongeng - dongeng yang pernah diceritakan oleh dirinya, dan sosok wanita yang kuat yang ada dalam dirinyalah yang menjadi sumber kekuatanku untuk melawan semua bisikan - bisikan Egoku.
Walaupun aku tahu, Jalan yang sedang aku telusuri saat ini bagaikan jalan yang tak berujung, tapi aku yakin. Apa yang ada didalam egoku, yang selalu mengatakan semua ini percuma saja dan sia - sia adalah kesalahan besar.
Create by : Qiyara
Berlari tanpa henti, mengikuti sebuah jalan yang panjang. Jalanan yang bahkan diriku sendiri tidak tahu kemana arah kaki ini akan membawaku pergi . Berlari tanpa tahu apa yang akan aku temui didepan sana, dan apa yang harus aku lakukan jika ada sebuah bahaya yang siap menantiku seorang diri.
Berlari diantara kabut hitam pekat, setelah hadirnya hujan badai yang mengerikan malam itu. Jalan yang begitu menyeramkan, bahkan tidak ada satu orang pun yang ingin melewati jalanan ini. Jalanan yang begitu gelap, sepi dan dipenuhi oleh kerikil yang dengan senang hati melukai kaki setiap kali melangkah dan pohon - pohon besar yang siapapun yang melihatnya akan merasa takut. Dalam benak ini, hanya mengharapkan sebuah harapan, akan adanya sinar cahaya yang akan menjadi arah untuk keluar dari perjalanan ini, atau bahkan sebuah jalan keluar yang telah lama di nantikan.
Tertatih, hingga rasanya ingin sekali berhenti untuk berlari. Egoku ini selalu saja membisikan sesuatu yang selalu ingin aku lakukan.
"Berhenti saja, menyerahlah" Kalimat itu selalu saja terdengar begitu keras dan nyaring.
"Berlari seperti ini, dijalanan yang begitu gelap tanpa ada cahaya yang menyinari tidak ada gunanya!! Bahkan bintang pun enggan menyinari perjalananmu. Kau sendirian berlari dan kehilangan arah bagai layangan putus begitu lamanya, tidakkah kau merasa kasihan pada dirimu sendiri? Tidakkah kau merasa lelah? Apa yang kau harapkan tidak akan menjadi kenyataan, semua yang kau lakukan dan kau perjuangkan selama ini adalah sia - sia"
Godaan untuk menghentikan kakiku untuk berlari semakin kuat, terkadang kaki ini menghentikan lariku. Tidak benar - benar berhenti, tapi melangkah pelan menyusuri jalanan.
"Berhentilah!!!"
"Sudahi semuanya"
"Kau lelahkan?"
"Kau berjuang sendirian, tanpa ada yang menemanimu!!!"
"Bagus, berhentilah kau berlari, dan hentikanlah langkah kakimu sekarang!!!"
Kata - kata itu semakin terdengar sangat jelas ditelingaku saat kaki ini hanya melangkah perlahan. Benar semuanya terlihat sia - sia saat aku berlari tanpa arah. Hanya menyusuri jalanan tanpa jelas arahnya, memang melelahkan. Tapi bagaimana dengan perjuanganku selama ini?
Sudah berapa banyak waktu yang sudah aku lewati untuk berjuang sampai sejauh ini? Bukan satu atau dua bulan saja aku melakukan perjalanan ini, atau bahkan hanya satu atau dua hari saja. Sudah bertahun - tahun lamanya aku melakukan perjalanan ini.
Memang aku sadar, sampai saat ini pun, aku belum menemukan satu cahaya pun didalam perjalanan ini. Yang aku temui hanya sebuah krikil - krikil tajam, hewan - hewan buas dan jalanan yang licin, yang sering sekali membuatku terjatuh dan menangis.
Tujuan perjalanan panjangku adalah mengambil sebuah obat untuk luka yang abadi, obat yang aku harapkan dapat menyembuhkan luka abadi dari hati seorang wanita yang sudah hancur lebur. Luka yang aku terima dalam perjalanan waktu ini tidaklah sebanding dengan apa yang telah ia rasakan. Walaupun, jika dilihat dengan sesama kami sama - sama terluka parah dan membutuhkan obat itu.
Berhenti, sama saja aku mengakhiri segalanya, mengakhiri perjalananku, mengakhiri perjuangan panjang yang melelahkan.
Untuk apa aku merasakan perihnya luka dari perjalanan ini? Untuk apa aku menahan sakit yang aku rasakan di setiap jengkal tubuhku, perihnya hatiku, dan berjuang melawan ke egoisanku sendiri, jika semua itu adalah usaha yang sia- sia. Usaha yang aku tahu, tidak semua orang dapat melewatinya dengan mudah, bahkan jika ada yang melewati perjalanan seperti diriku ini, beberapa ada yang menyerah dan memutuskan untuk berhenti melangkah atau tersesat dijalanan gelap lainnya. Mengikuti suara ego mereka yang terdengar jelas dan sangat menjanjikan. Seperti suara Egoku yang selalu menjadi bayangan hitam dalam perjalanan ini.
Kalau akan seperti mereka pada akhirnya, untuk apa semua yang aku lakukan saat ini?
Berusaha bangkit dan melangkahkan kakiku untuk berlari lagi saat aku terjatuh dari jalan yang licin dan terjal. Jika semua yang aku lakukan pada akhirnya sia - sia saja. Karena jika aku menghentikan langkah kakiku, artinya menghentikan perjalanan waktuku sendiri. Memutuskan untuk membiarkan seseorang terluka kembali karena kehilangan diriku. Kehilangan diriku selamanya yang tenggelam di dalam kabut hitam yang tidak terlihat.
Dan kekuatan ku satu - satunya dalam perjalanan ini adalah membayangkan wanita itu tersenyum kembali, memberikan senyuman kebahagian, senyuman yang sama seperti pertama kali aku membuka mataku untuk melihat dunia ini. Kekuatan ku untuk bisa berlari mencari obat itu adalah dirinya.
Pelukkan hangat, dongeng - dongeng yang pernah diceritakan oleh dirinya, dan sosok wanita yang kuat yang ada dalam dirinyalah yang menjadi sumber kekuatanku untuk melawan semua bisikan - bisikan Egoku.
Walaupun aku tahu, Jalan yang sedang aku telusuri saat ini bagaikan jalan yang tak berujung, tapi aku yakin. Apa yang ada didalam egoku, yang selalu mengatakan semua ini percuma saja dan sia - sia adalah kesalahan besar.
Create by : Qiyara
Komentar
Posting Komentar