Tidak Ada Hujan Yang Abadi
Malam yang kelam hadir pada satu waktu, waktu yang berjalan begitu lambat, hingga setiap kata, demi kata yang dilontarkan oleh mereka sangat terdengar jelas, hingga tanpa sadar masuk kedalam diriku. Langit yang begitu cerah, berubah menjadi gelap dan hujan badai pun hadir dengan cepat. Menghabisi semua yang ada, membasahi bahkan menghancurkan setiap pondasi yang dibangun dengan kokohnya pun hancur berkeping - keping tidak ada yang tersisa.
Ku terdiam dalam kesunyian, kesunyian rindu yang tidak ada akhirnya. Mencari sebuah kebenaran dan mungkin kesalahpahaman yang terjadi. Bergulat dengan pikiran - pikiran sendiri, yang tidak ada ujungnya.
Kini semua teriakan - teriakkan itu sudah tidak terdengar lagi, semua menjadi sunyi, bahkan nyanyian dari sekumpulan jangkrik pun sangat terdengar malam itu. Semua berdiam diri, tanpa ada sepatah kata pun yang keluar. Hanya ada kaca yang sudah pecah, dan nasibnya pun tidak bisa diperbaiki seperti sedia kala.
Yang bisa ku lakukan saat itu hanyalah duduk terdiam di tepi kasur, memandangi sosok wanita yang dulunya begitu kuat dan bijaksana dalam hidupku, tapi kini hanyalah sosok wanita yang lemah dan hampa.
Wanita yang selama ini kuat dan selalu ceria saat ini berubah menjadi seseorang yang selalu nampak murung dan pendiam. Tidak ada lagi tawa yang selalu mengiringi setiap langkah kakinya di hari - hari yang melelahkan, hanya air mata yang selalu setia membasahi pipinya yang semakin tirus dan tubuhnya yang semakin hari semakin habis dimakan oleh waktu.
Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana aku bisa mengembalikan senyuman dan kebahagiaannya yang telah di ambil oleh orang yang tidak bertanggung jawab dalam hidupnya? Bagaimana dengan diriku? Apa yang akan terjadi pada kami selanjutnya? Pertanyaan itu selalu hadir dalam benakku. Pertanyaan yang hingga saat ini belum bisa ku temukan jawabannya.
Aku paham bagaimana perasaannya hancur, bahkan sebuah ungkapan kata - kata pun tidak bisa menjelaskan bagaimana perasaannya saat ini. Bukan hanya dirinya yang merasakan kehancuran itu, bukan hanya dirinya yang merasakan betapa kecewanya melihat orang yang telah ia percayai didalam hidupnya justru mengkhianatinya. Aku pun juga merasakannya, kami sama - sama hancur karena perbuatan "Dia".
Tapi aku tahu kehancuran itu mempunyai rasa dan taraf yang berbeda. Aku hanya merasakan dampak dari apa yang telah "Dia" lakukan, tapi wanita yang berada di sampingku, yang sedang tertidur lelap karena lelahnya meratapi dirinya, merasakan kekecewaan dan kesedihan yang luar biasa.Bahkan jika aku menjadi dirinya, aku tidak akan mungkin dapat bertahan. Baginya ini bukan hanya sekedar mimpi buruk yang ada dalam tidurnya, tetapi bagaikan malapetaka yang bahkan tidak pernah terbayangkan olehnya.
Hari demi hari yang setia menemaninya hanyalah air mata yang selalu membasahi pipinya.
Tahukah "Dia" bahkan aku pun tidak dapat meneteskan air mata setitik pun saat tau bagaimana kejamnya "Dia" mengkhianati hidup kami, menodai kepercayaan kami yang sudah dibangun dengan segala usaha dan cinta yang kami miliki. Bagaimana bisa laki - laki yang seharusnya menjadi orang terakhir yang menyakiti hidup kami berdua, saat ini menjadi laki - laki pertama yang menyakiti kami, bahkan orang yang pertama kali menghancurkan harapan dan duniaku.
Hancur?Pasti
Kecewa? Sudah pasti
Sedih? Tidak usah dipertanyakan lagi
Membenci "Dia"? Bagaimana bisa aku membenci dirinya. Orang yang selama hidupku selalu menjadi panutan dan orang yang aku hormati dengan segala kekurangan yang ada pada dirinya.
Apa yang harus aku lakukan?
Menangis dan meratapi nasibku yang begitu malang? Oh tidak, tidak semudah itu...
Bagaimana aku bisa menangis dan melepaskan semua perasaan kecewaku, pada saat wanita yang paling aku sayang sedang hancur di depan mataku. Tidak, bahkan air mata pun malu untuk keluar didepannya. Hanya senyuman dan pelukkan hangat yang aku harapkan bisa sedikit menghilangkan sakit pada luka parah yang dirasakannya. Hanya sebuah harapan dan waktu yang aku yakini bisa mengembalikan senyuman dan kebahagian dirinya, dan diriku.
Yang aku yakini saat ini, tidak ada yang abadi dalam kehidupan ini, bahkan hujan badai sekalipun pada akhirnya akan reda dan hilang cepat ataupun lambat. Langit cerah dan pelangi yang indah pun akan datang setelah hujan itu berakhir. Begitu pula dengan kesedihannya. Entah berapa lama, entah membutuhkan berapa waktu yang cukup untuk mengembalikan senyumannya di sisa - sisa kehidupannya. Yang menjadi kekuatanku saat ini, adalah fakta bahwa aku adalah satu - satunya orang yang menjadi sumber kekuatan dan kebahagiaan dirinya.
Sehancur apapun diriku, perasaan yang ada dalam diriku. Itu semua tidaklah penting.
Create by : Qiyara
Date : 21 Agt 2017
Please jangan copy tulisan ini, jika ingin meng-copynya silahkan hubungi saya sebelumnya.
Create by : Qiyara
Date : 21 Agt 2017
Please jangan copy tulisan ini, jika ingin meng-copynya silahkan hubungi saya sebelumnya.
Komentar
Posting Komentar